Benda atau alat yang tidak bisa digunakan untuk bersuci adalah

Dalam Islam ada beberapa alat untuk bersuci dari najis atau hadas, antara lain:

Air

Air dibagi dalam kajian fiqih dibagi lagi menjadi lima:

1.       Air Mutlak

Air mutlak adalah air suci yang dapat mensucikan (untuk membersihkan najis dan hadas). Adapun macam-macam air tersebut yaitu: air hujan, salju, air, embun, sumur, sungai, es yang sudah hancur kembali. Sebagaimana firman Allah:

Dan Kami turunkan dari langit air (hujan) yang mensucikan (Al-Furqan/25: 48)

2.       Air Laut.

berdasarkan hadis Abu Hurairah. Ia berkata: Seorang laki-laki menanyakan kepada Rasulullah, Ya Rasulullah, kami biasa berlayar di laut dan hanya membawa sedikit air jika kami pakai air itu untuk berwudhu, kami akan kehausan, bolehkan kami berwudhu dengan air laut?, lalu Rasulullah bersabda:

Laut itu airnya suci lagi menyucikan, dan bangkainya halal dimakan (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Turmidzi dan Nasai).

3.       Air telaga,

Diriwayatkan oleh Ali ra.

Bahwa Rasulullah saw. pernah meminta satu ember air zam-zam lalu diminumnya sedikit dan sisanya dipakai untuk berwudhu (HR. Ahmad)

4.       Air Musta’mal (yang terpakai)

Air musata’mal adalah air curahan bekas bersuci (mandi dan wudhu). Air yang demikian hukumnya suci dan mensucikan seperti air mutlak, hal ini dikarenakan asalnya yang suci, sehingga tidak ada satu alasanpun yang dapat mengeluarkan air dari kesuciannya. Adapun dasarnya adalah hadis beriku.

“Jabir ibn Abdullah meriwayatkan pada suatu hari Rasulullah menjengukku tatkala sakit dan tidak sadarkan diri, maka Rasulullah berwudhu lalu menuangkan sisa air wudhunya kepadaku (HR. Bukhari dan Muslim).

5.       Air Campur

Air campur adalah air suci yang bercampur dengan barang suci seperti sabun, kapur barus dan benda-benda lain yang biasanya terpisah dari air, namun tidak merubah bentuk, bau dan rasanya. Misalnya air kapur barus, air mawar, dan sebagainya.

Air tersebut hukumnya menyucikan selama kemutlakannya (bau, bentuk dan rasanya) masih terjaga tetapi, jika sudah tidak dapat lagi dikatakan air mutlak maka hukumnya suci pada dirinya, tetapi tidak menyucikan bagian yang lain (dapat digunakan untuk mensucikan najis namun tidak dapat digunakan untuk membersihkan hadas). Berdasarkan hadis Umi Athiyah yang artinya:

Rasulullah saw masuk ke ruang kami ketika wafat putrinya Zainab lalu berkata: mandikanlah ia tiga atau lima kali atau lebih banyak lagi jika kalian mau, dengan air dan daun bidara, dan campurlah yang penghabisan dengan kapur barus atau sedikit dari padanya (HR. Jamaah). HR. Bukhari 1258, Muslim 939, Abu Daud 3142, Tirmizy 990, An-Nasai 1880 dan Ibnu  Majah 1458.

6.       Air Perahan

Air perahan adalah air suci yang berasal dari perahan tumbuhan atau buah-buahan. Misalnya air jus, air lira, air kelapa dan sebagainya. Hukum air ini suci namun tidak dapat digunakan untuk bersuci (maksudnya dapat digunakan membersihkan najis namun tidak dapat digunakan untuk membersihkan hadas), sebab tidak memiliki ciri-ciri air mutlak.

7.       Air Najis

Air najis adalah yang tercampur benda najis sehingga merubah rasa, warna, dan baunya. Air najis hukumnya tidak dapat mensucikan, baik untuk mensucikan najis maupun hadas.

Tanah

Bahan kedua untuk membersihkan najis adalah tanah. Jadi tanah hukumnya suci dan mensucikan. Dalam hadis digambarkan bahwa sandal yang terkena kotoran cara membersihkannya adalah dengan menggosoknya di tanah.

 “Jika salah seorang diantara kalian menginjak kotoran dengan sendalnya, maka sesungguhnya debu (tanah) menjadi penyuci baginya.” (HR. Ibnu Hibban)

Dari Ummu walad Ibrahim bin Abdirrahman bin Auf bahwasanya dia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, istri Nabi saw. seraya berkata; Sesungguhnya saya seorang wanita yang suka memanjangkan ujung (bagian bawah) pakaian dan berjalan di tempat yang kotor. Maka Ummu Salamah berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Ia (bagian bawah pakaian yang kotor) tersucikan oleh tempat setelahnya (yang dilewati)”. (HR. Abu Dawud)

Batu dan Benda Padat yang dapat Menyerap Kotoran

Benda alternatif lainnya yang dapat digunakan untuk bersuci adalah batu. Dikisahkan pada saat tidak ada air, Nabi saw. bersuci dengan menggunakan tiga batu, sebagaimana hadis berikut ini:

Dari Khuzaimah bin Tsabit ia berkata; Rasulullah saw. bersabda berkenaan dengan istinja`:

“Hendaklah menggunakan tiga batu dan tanpa dengan menggunakan kotoran.” (HR. Ibnu Majah)

Ilustrasi wudhu. © Pixabay

Agama Islam begitu memerhatikan kebersihan dan kesucian. Sehingga dalam tata cara setelah buang air kecil atau air besar, dikenal sebagai istinja'. Hal ini diatur dalam syariat Islam. Sebegitu cinta Allah SWT terhadap hal ini, bahkan tertuang dalam kitab suci Alquran.

"Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri," (QS. Al-Baqarah ayat 222)

Bahkan tuntunan Nabi Muhammad SAW, mengajarkan cara istinja' sesuai syariat Islam. Beristinja' sejatinya dapati disucikan menggunakan air yang suci atau batu. Batu yang bersih bermanfaat untuk menghilangkan wujud najisnya.

Sedangkan air, akan menghilangkan bekasnya tanpa bercampur dengan najisnya. Karena sudah hilang lebih dulu bersama batu. Jika menggunakan salah satu, maka lebih utama beristinja' dengan air.

Berikut ini pengertian istinja' atau bersuci, serta tata caranya sesuai syariat Islam, seperti dihimpun dari NU Online, Rabu (18/8).

2 dari 4 halaman

©Shutterstock.com/ Andrey Lishnevsky

Dikutip dari al-Fiqh al-Manhaji, istinja' adalah menghilangkan najis atau meringankannya dari tempat keluarnya air seni atau kotoran. Berasal dari kata an-najaa’ yang berarti bersih atau selamat dari penyakit.

Disebut demikian, karena melakukan istinja' berarti orang itu mencari keselamatan dari penyakit dan berbuat untuk menghilangkannya.

Adab Buanga Air

Selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW, ada hal yang patut diperhatikan dalam buang air seperti:

- Mencari tempat sepi atau jauh dari penglihatan orang.

Maksudnya tidak buang air sembarangan, khususnya di tempat orang berteduh, tempat berkumpul, di bawah pohon yang sedang berbuah, di jalanan, lubang hewan, dan lainnya. Karena itu bisa merugikan makhluk lain. Sedangkan Islam sendiri melarang untuk merugikan siapa pun.

- Haram menghadap atau membelakangi arah kiblat.

Adab buang air, hukumnya haram bila menghadap atau membelakangi arah kiblat. Apalagi bila dilakukan di tempat terbuka. Sementara bila buang air di toilet yang atau tempat tertutup khusus, maka hukumnya makruh.

- Menggunakan tangan kiri saat bersuci atau cebok.

3 dari 4 halaman

©2013 Merdeka.com/Shutterstock/silver-john

Selain mengarahkan cara buang air yang baik dan benar. Islam pun tak luput dari cara mensucikannya atau beristinja' usai buang air. Berikut ini adab istinja' sesuai syariat:

1. Berdoa saat mau masuk toilet

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك من الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Bismillâhi Allâhumma innî a'ûdzu bika minal khubutsi wal khabâitsi

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan iblis jantan dan betina."

Doa ini dipanjatkan sebelum melangkah masuk. Hikmahnya supaya kita terhindar dari godaan setan laki-laki dan perempuan. Termasuk mencegah diri ini berkhayal yang tidak baik.

Selain itu, memohon kepada Allah SWT atas keselamatan menjaga alat kelamin dari perbuatan keji dan hina, seperti zina.

2. Masuk kamar mandi atau toilet mendahulukan kaki kiri.

3. Buang air di lubang yang seharusnya. Bukan di dinding atau lantai.

4. Jongkok saat buang air.

5. Menuntaskan keluarnya kotoran.

Tidak perlu menunda kotoran di dalam tubuh. Bisa bantu dengan mengelus perut atau menekan area tertentu supaya lebih lancar. Supaya terhindar dari penyakit akibat sisa kotoran yang menumpuk.

6. Membaca doa keluar toilet.

Doa versi pendek : "Alhamdulillahi alladzi adzhaba ‘anni al-adza wa ‘aafaani"

Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari tubuhku, dan mensehatkan aku."

Doa versi panjang atau lengkapnya sebagai berikut:

غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ لِلهِ الذي أَذْهَبَ عَنِّيْ الْأَذَى وَعَافَانِيْ اللهم اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ. اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ

Guhfroonaka alhamdulillahi alladzi adzhaba 'anni al-adza wa 'aafaani. Allahumma ij'alni minat tawwaabiina waj'alni minal mutathohhiriin. Allahumma thohhir qolbi minan nifaaqi wa hashshin farji minal fawaahisyi.

Artinya: "Dengan mengharap ampunanmu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari tubuhku, dan mensehatkan aku. Ya Allah, jadikanlah aku sebagian dari orang yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagian dari orang yang suci. Ya Allah, bersihkan hatiku dari kemunafikan, dan jaga kelaminku dari perbuatan keji (zina)."

4 dari 4 halaman

dumblittleman.com

Dilansir dari NU Online, ada tiga macam cara melakukan istinja', yakni:

- Menggunakan tiga buah batu atau bisa diganti dengan tiga lembar tisu. Namun jika dirasa masih belum bersih, maka ditambah lagi hingga berjumlah ganjil, lima atau tujuh dan seterusnya.

Ini dilakukan apabila tidak ada air. Atau ada air yang tersedia, tapi hanya cukup untuk minum.

- Dengan menggunakan air saja.

- Menggunakan tiga lembar tisu atau batu terlebih dahulu. Lalu diakhiri dengan menggunakan air. Cara istinja yang ketiga ini adalah yang terbaik.
Batu atau tisu berfungsi untuk menghilangkan wujud najis sekaligus bekasnya. Air yang akan menyempurnakan sucinya dari najis.

Syarat Istinja' Hanya dengan Batu

Pada saat terdesak dan tidak air, Islam juga mengajarkan cara bersuci atau istinja' yang baik. Hal ini supaya terhindar dari sakit, serta tetap menjaga kebersihan. Sebut saja sedang mendaki gunung, tersesat tanpa menemukan sumber air, dan masih banyak lagi.
Melansir dari kitab Safinatun Naja, Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadlrami menyebutkan delapan syarat yang harus dipenuhi jika beristinja' hanya menggunakan air. Beliau menyampaikan:

"Syarat beristinja; hanya dengan menggunakan batu ada delapan, yakni
(1) dengan menggunakan tiga buah batu (atau satu batu yang mempunyai tiga sisi)
(2) batunya dapat membersihkan tempat keluarnya najis
(3) najisnya belum kering
(4) najisnya belum pindah
(5) najisnya tidak terkena barang najis yang lain
(6) najisnya tidak melampaui shafhah dan hasyafah
(7) najisnya tidak terkena air
(8) batunya suci."(Salim bin Sumair Al-Hadlrami, Safiinatun Najaa, Beirut: Darul Minhaj tahun 2009).

istimewa ©2013 Merdeka.com

Syarat Benda untuk Beristinja' Bila Tak Ada Air

Dikutip dari kanal YouTube NU Online, berikut ini syarat diperbolehkannya benda untuk beristinja' selain batu:

1. Selain batu, bisa menggunakan tisu, kayu, daun kering atau benda sejenis yang digunakan untuk bersuci. Harus dengan material yang suci dan tidak terkontaminasi najis.

2. Benda yang digunakan harus benda padat. Bukan benda cair atau lembek. Usahakan tidak dengan benda yang mudah hancur.

3. Benda memiliki permukaan kesat yang bisa mengangkat najis. Tidak sah jika beristinja' dengan kaca atau benda sejenis permukaan halus.

4. Tidak bersuci dengan benda terhormat, seperti tulang, makanan, benda yang tertulis asma Allah dan beragam materi agama lainnya.

[kur]